Kamis, 09 Juni 2011

JEJAK MASALAH PENDIDIKAN MENJAMUR* bagian 4


Konsep Berfikir Bloom (Pakar Pendidikan International)
Beberapa delegasi pelajar Indonesia yang mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri merasakan rata – rata pelajar Indonesia merasa kurang dalam hal praktek namun unggul secara teori. Padahal teori pendidikan menjelaskan dengan rinci aspek pembelajaran dan tahapan berfikir sebaiknya memenuhi standar proses berfikir dan evaluasi yang sinergi.
Sebagai contoh pakar pendidikan Bloom mengungkapkan proses berfikir dimulai dari tahap pertama  remembering ( mengingat ) ini 28 jenis, tahap ke dua understanding ada  21 jenis, tahap ke tiga applying ada 23 jenis. Tahap ke empat analyzing ada 29 jenis, tahap ke lima evaluating ada 30 jenis, tahap ke enam  creating ada 25 jenis. Konsep Bloom ini menjadi acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Berdasarkan jumlah buku pembelajaran di Indonesia rata – rata hanya sampai pada proses remembering dan understanding. Itu hanya dari buku belum proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di kelas
Proses mencerdaskan bangsa bukan perkara mudah dan cepat. Butuh proses jika proses Bloom diterapkan secara maksimal maka dengan mudahnya Indonesia akan menjadi bangsa pencipta produk bukan pemakai produk. Survey yang dilakukan oleh dr. Andhyka P.Sedyawan seorang master coach dari American Broad of NLP menyatakan perbandingan otak Indonesia dihargai paling mahal dibandingkan otak dari negara lain. Ini menjadi bukti bahwa orang Indonesia belum semua maksimal menggunakan  proses berfikir sampai tahap creating.
Kurikulum yang mencerdaskan bisa dimulai dari level bawah misalnya untuk proses skill beberapa sekolah international dan sekolah alam sudah mulai mengembangkan konsep berfikir inquiry. Dibidang sains level taman kanak – kanak (TK) sudah mulai dipelajari meskipun dengan cara sederhana.
Metode sains seperti :
1.      Meminta siswa untuk mengidentifikasi masalah
2.      Memberikan hipotesis
3.      Menyebutkan variabel
4.      Menguji hipotesis
5.      Mengumpulkan data
6.      Mengatakan kesimpulan yang diperoleh
Kemudian proses skill yang dikembangkan meliputi “
1.      Observing
2.      Communicating
3.      Classifying
4.      Estimating and meansuring
5.      Infering
6.      Predicting
7.      Makin definition
8.      Making using models
9.      Giving hypotheses
10.  Collecting data
11.  Controlling variables
12.  Experimentating
Kurikulum pendidikan di Indonesia tentang membaca pun belum ada padahal pemerintah sudah dengan tegas menggalakkan membaca. Ini seperti meminta masyarakat cerdas secara instan. Sedangkan masyarakat sendiri tidak tahu harus melakukan apa.

JEJAK MASALAH PENDIDIKAN MENJAMUR* bagian 3


Sinergisitas Jurusan Pendidikan dengan Dunia Kerja
Seorang sarjana jurusan ekonomi  setelah lulus kuliah menapaki dunia yang baru dunia kerja dengan pengalaman dia yang ada di kampus maka dia meniatkan untuk memasukkan surat lamaran ke perusahaan ternama. Secara kemampuan akademis dia merasa cukup dan skill yang dia punya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Alhasil sarjana ini diterima menjadi karyawan di perusahaan yang dia harapkan. Ini sekilas kisah tentang lulusan sarjana. Orientasi sarjana setelah lulus mencari kerja ini sudah menjadi fenomena. Ini bukanmasalah prinsip yang kemudian menjadi acuan baku. Namun didunia lain tidak semua semulus sarjana ini.
Contoh lain yang disinggung oleh Bob Sadino seorang pengusaha di Jakarta, beliau menjelaskan potensi sarjana pertanian di Indonesia terbuka luas namun berapa persen sarjana pertanian yang fokus di bidang pertanian. Demikian juga bidang – bidang yang lain. Indonesia kaya akan alam tapi penduduk asing yang memanfaatkan secara optimal.
Di lapangan yang paling cocok adalah pendidikan kedokteran. Awalnya belajar di kedokteran, setelah lulus jadi dokter. Sedang profesi yang lain banyak ditemukan lintas bidang. Data riil tentang kebutuhan SDM di lapangan/ dunia kerja tidak dimiliki oleh pemerintah sehingga kebijakan yang diterapkan adalah menciptakan SDM sebanyak – banyaknya tanpa proyeksi yang jelas setelah lulus menjadi sarjana.
Berbeda dengan lembaga pendidikan  Negara seperti STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika), IPDN dan yang lain menjadi salah satu  solusi yang baik untuk proyeksi pekerjaan. Meski tidak dipungkiri masih butuh lebih banyak lagi SDM dunia kerja yang lain. Setidaknya ada kejelasan tahun sekian membutuhkan jenis X dengan jumlah SDM sekian orang.
Selama ini  sekolah bisnis mencetak lebih banyak mencetak calon karyawan dibanding mencetak calon pengusaha. Sekolah bisnis menerapkan kebijakan yang sama dengan sekolah yang lain. Jika tarafnya perguruan tinggi tingkat sarjana maka tugas akhirnya hanya skripsi. Seharusnya ada kebijakan yang berbeda dengan sekolah non bisnis.
Biro pusat statistik di Indonesia belum pernah mensosialisasikan  jumlah SDM yang dibutuhkan untuk tahun 2050 untuk perusahaan “X” kemudian ditindaklanjuti perguruan tinggi dengan menjalin komunikasi dengan perusahaan. Contoh : Kriteria apakah yang harus dimiliki oleh SDM di perusahaan “X” sehingga perguruan tinggi mampu mengajarkan skill dan soft skill yang dibutuhkan dilapangan.
Pendidikan Mencerdaskan tapi Membodohkan
Ini hanya sekedar kiasan karena tidak mungkin pendidikan semakin maju sedangkan kemiskinan terus meraja lela. Ironis.Berlembar – lembar masalah sosial di bahas di kursi dewan yang semua adalah kaum interlektual.Tidak hanya anggota dewan yang turut mengatasi masalah sosial dan pendidikan bahkan swasta pun bergerak untuk terjun mengatasi masalah ini. Semua pihak berhak andil dalam masalah ini.
Model kurikulum Indonesia padat namun belum mencerdaskan. Terbukti waktu anak – anak belajar habis untuk mengerjakan berlembar – lembar soal di kertas. Setelah lulus sekolah sudah selesai belajarnya. Semua diakhiri dengan mudah.Belajar hanya sebatas di sekolah. Seharusnya ada format pendidikan yang lebih layak ditawarkan kepada masyarakat.
Menganggap anak pintar hanya dari tes psikolog atau tes IQ. Salah kaprah pendidikan Indonesia dimulai dari sini. Kurangnya pengetahuan bahwa anak yang pinter pelajaran A pasti pinter di pelajaran B. Padahal tidak. IQ bukan ukuran pintar atau cerdas untuk anak normal.seperti yang diungkapkan Gadner, bahawa anak yang cerdas adalah salah satunya mereka ahli dibidang tertentu yang menjadi fokusnya seperti interpersonal. intrapersonal, naturalis, logis matematis, visual spatial, motorik kineststis,dan bahasa 

JEJAK MASALAH PENDIDIKAN MENJAMUR* bagian 2

 
Polemik Oknum Pendidikan
Pendidikan bertujuan untuk perbaikan negara dan bangsa. Wajah pendidikan yang selalu berganti kebijakan dari kurikulum CBSA, kompetensi, KTSP dan lain sebagainya. Ini potret buram wajah pendidikan Indonesia. politisasi pendidikan sampai dengan kapitalisme pendidikan,secara otomatis ini hanya  menguntungkan beberapa pihak saja. Awalnya mungkin sepele dan dianggap tidak bermasalah namun ini membawa kerugian bagi kualitas pendidikan
Pertama, menobatkan pribadi menjadi pendidik karena terpaksa, bukan karena panggilan tetapi karena tidak mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Padahal mendidik membutuhkan jiwa pendidik. Tidak harus sarjana pendidikan tetapi mempunyai jiwa pendidik. Pada dasarnya semua tugas dimulai dari hati.
Jika mendidik sudah panggilan hati maka ilmu  pendidikan akan mudah dipelajari dan dikembangkan di lapangan. Pendidik yang menjadikan profesi pendidikan sebagai loncatan,  pada akhirnya tidak fokus menangani permasalahan pendidikan karena hanya akan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berpindah keprofesi yang lain.
Apa yang terjadi jika bukan ahli dibidangnya tapi mengajarkannya. Ini persoalan di tanah air. guru sosial mengajar sains  padahal tidak ada dasar sebelumnya. Alasan selalu klasik kekurangan tenaga pendidik. Mau apa lagi baik menjadi pendidik harus serba bisa dalam mengajar.
Bisa diprediksi jika ini tidak segera diselesaikan, maka karena keterbataan ilmu yang dimiliki atau ilmu yang disampaikan tidak tepat sasaran. Ingin lebih baik tapi menjadi  berlawanan dengan tujuan semula. Selain pendidik ada juga problem di penentu/pengambil kebijakan pendidikan.
Pengambil kebijakan pendidikan, ada yang tidak tahu lapangan pendidikan.Sekian banyak guru di Indonesia bisa dikatakan kurang dari 50 % yang memahami dengan cepat perubahan konsep pendidikan.  Melihat  permasalahan  pendidikan yang kompleks, konsep pendidikan yang adaptif dengan menyesuaikan  potensi wilayah mungkin akan lebih efektif dibanding dengan penyeragaman konsep pendidikan.
Kedua, kapitalisme pendidikan. Hitung berapa biaya masuk perguruan tinggi negeri atau biaya masuk sekolah swasta di kota besar. Bisa dibanyangkan dana yang cukup besar mengalir untuk pendidikan. Orang tua pun tidak merasa rugi karena jaminan mereka adalah masa depan yang lebih baik bagi anak – anak mereka.
Namun disisi lain pendidikan menjadi medan basah untuk meraup banyak keuntungan. Realita lapangan. Jumlah lembaga bimbingan belajar dn lembaga kursus  yang berhubungan dan minat dan bakat menjamur. Tidak mungkin mereka menyelenggarakan pendidikan tanpa uang. Belum lagi biaya masuk sekolah Playgroup. TK, SD, SMP, SMA swasta  biayany bisa berlipat lipat.
Ketiga, kebijakan evaluasi pendidikan hanya pergantian istilah.Ironis. Tujuan pendidikan adalah mencerdasakan anak bangsa namun beda dengan kejadian di lapangan tujuan pendidikan untuk meluluskan UN (Ujian Nasional). Pada prinsipnya ini sudah tidak benar. Sekolah dianggap berhasil apabila meluluskan 100 % siswanya dengan nilai memuaskan. Guru dianggap berkualitas dengan memberi pelajaran yang baik sehingga muridnya bisa lulus UN.
 Apa yang menjadi pertanyaan beberapa pengamat pendidikan tentang UN sekilas nampak mubazir. Belajar 3 tahun selesai dengan UN yang hanya beberapa hari saja. Orientasinya beda. Pendidikan yang sejati menjadikan pribadi berkualitas tidak terpaut dengan angka berbinar – binar . Namun orientasi sekarang ini belum sampai pada tahap berfikir yang tinggi.
Standarisasi evaluasi untuk pendidikan sampai saat ini hanya berputar – putar seputar nama padahal esensinya sama evaluasi. Daftar nama mulai dari Ujian Akhir, Ujian Kelulusan, EBTA, EBTANAS, UAN dan UN. Ini tidak jauh beda dengan ujian masuk perguruan tinggi. Ada Sipenmaru, USM, UMPTN, SNMPTN dan lain sebagainya. Sepertinya kebijakan pendidikan hanya berputar soal nama. Padahal substansi dunia pendidikan lebih dari itu. Peradaban dan kemajuan.

JEJAK MASALAH PENDIDIKAN KIAN MENJAMUR bagian 1*



Bulan Mei identik dengan aksi sosial. Terbukti banyak peringatan dibulan ini, seperti hari buruh jatuh pada tanggal 1 Mei. Hari pendidikan jatuh pada tanggal 2 Mei, hari buku 17 Mei, hari kebangkitan nasional 20 Mei dan lain sebagainya. Sehingga tak heran dibulan ini banyak aksi dari aktivis yang terkain maupun dari mahasiswa.
Pendidikan disebut sebagai jalan utama untuk perbaikan peradaban suatu negara. Sebagai medan yang paling strategis pendidikan memegang kendali dibidang, ekonomi, budaya, kesejahteraan, kesehatan dan dibidang yang lain.Permasalahan yang berkembang di masyarakat selama ini adalah bagaimana mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan biaya merakyat. Bisa juga tergantung dengan kondisi pendapatan yang diterima, tidak sebanding dengan kebutuhan.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan pendidikan berkualitas namun masalah – masalah yang muncul belum diselesaikan secara tuntas. Permasalahan financial, permasalahan geografis, ekonomi dan kebijakan pendidikan yang dinilai belum efektif. Belum selesai satu masalah muncul masalah yang lain.Misalnya soal pengangguran yang semakin hari semakin menjadi.
Sasaran  20 % Dana APBN Belum Efektif
Kontroversi yang berkembang selama ini tidak membuat beberapa pihak terdiam melihat polemik pendidikan yang berkembang di masyarakat  dengan cepat. Pemerintah berusaha mengucurkan dana untuk pendidikan. Itupun setelah didemonstrasi mahasiwa dan aktivis pendidikan.  Akhirnya pemerintah menepati janjinya sesuai dengan undang – undang dan APBN. Anggaran pendidikan sebesar 20 %  sudah dikeluarkan meskipun masih banyak beberapa kendala dalam pelaksanaannya.
Selain itu kebijakan dana BOS masih membawa banyak problematika disana – sini. Padahal awalnya dianggap sebagai  solusi yang cukup untuk membantu perbaikan pendidikan di Nusantara.  Ternyata anggaran pendidikan,  baik dana BOS ataupun anggaran dana 20 % dari APBN masih belum dianggap ideal oleh masyarakat. Hasilnya bisa dilihat belum sepenuhnya menjadikan rakyat tersenyum lega. Hal ini menjadi sebab  pihak swatsa mengambil peran untuk membantu perbaikan kualitas pendidikan Indonesia.
Saat ini  pihak swasta mulai mengembang  sayap dengan membangun sarana pendidikan. Ada yang membentuk komunitas seperti PDI (Persatuan Dokter Indonesia), dan sekolah Qoryah Thayyibah di daerah Salatiga, Jawa Tengah.  Ada yang dikelola perusahaan sendiri, ada pula perusahaan yang bekerja sama dengan CSR untuk berkontribusi di bidang pendidikan, dan lain sebagianya.
Tak dipungkiri dana yang dibutuhkan juga sangat besar. Inilah yang kemudian memunculkan ungkapan kualitas pendidikan berbanding lurus dengan besarnya anggaran sebuah pendidikan. Karena faktor biaya mereka tidak bergantung kepada pemerintah sehingga dalam pelaksanaannya mereka survive dengan menawarkan kualitas.
Pemerintah sudah berupaya mengucurkan dana sebesar 20 % anggaran pendidikan dari APBN. Entah dalam bentuk format dana BOS atau yang lain. Nampak terlihat dimasyarakat pendidikan masih belum bisa dijangkau dengan mudah. Padahal masyarakat sadar bahwa perbaikan hidup bisa dimulai dari pendidikan.  
Ada faktor lain yang kemudian masyarakat menemukan kejanggalan terkait anggaran pendidikan 20 %,  tapi mereka tidak tahu harus mengadu ke siapa. Hanya sebatas mendengar ada anggaran pendidikan sudah cair sebanyak 20 %.  Begitu juga pemerintah pun sudah berupaya maksimal untuk mengatasi masalah ekonomi untuk kesejahteraan rakyat termasuk di bidang pendidikan. Lalu kepada siapa kejanggalan ini akan dipertanyakan, kepada siapa pula tanggung jawab gedung sekolah yang masih rusak.
Belum lagi tentang sarana pendukung pendidikan seperti perpustakaan sekolah di daerah pedalaman. Belum terasa geliatnya lalu siapa yang bertanggung jawab?. Dalam perjalanannya distribusi dan APBN untuk pendidikan sebesar 20 %  butuh pengawasan supaya tepat sasaran. Selain itu pemerintah harus selektif dalam mendata sekolah di daerah bahkan sampai pedalaman. Mengingat masih banyak persoalan pendidikan selain pendistribusian 20 % APBN untuk pendidikan
Putus Sekolah Karena Faktor Ekonomi
Fakta tentang Penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan.Bukan rahasia lagi. Berdasarkan kriteria pemerintah, penduduk  yang dikategorikan miskin jika berpenghasilan Rp6.000 per hari atau sekitar Rp 180.000 per bulan.  Kesimpulannya  penduduk miskin di Indonesia saat ini ada sekitar 43 juta atau 13 persen. Nasib  keluarga yang berpenghasilan Rp 180.000 terancam anaknya tidak mengenyam pendidikan.
Sedangkan berdasarkan data Bank Dunia kriteria penduduk miskin adalah jika berpenghasilan 3 dolar AS per hari atau Rp25.000 per hari atau Rp750.000 per bulan. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia lebih dari 100 juta jiwa. Bisa dikatakan kriteria pemerintah 4 kali lebih rendah dibanding standar Bank Dunia.  
Jika dikalkulasi lebih jauh SPP setiap bulan minimal Rp. 100.000  per bulan dengan pendapatan Rp. 750.000 perbulan atau Rp 180.000 tidak cukup untuk alokasi biaya pendidikan. Belum lagi   kebutuhan primer ( tempat tinggal, makan dan minum) setiap hari yang harus dipenuhi oleh setiap keluarga. Ini bertolak belakang dengan UUD 1945 dimana negara menjamin setiap warganya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Delapan puluh persen menyatakan karena kesulitan ekonomi baik yang tidak punya dana untuk beli pakaian seragam, buku, transport atau kesulitan ekonomi yang mengharuskan mereka harus bekerja sehingga tidak mungkin bersekolah,” Keterangan dari  Wamendiknas di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional. (25/12/2010)
Faktor Ekonomi dan Geografis
Secara geografis bisa menjadi sebab terhambatnya akses pendidikan yang memadai. Ini berlaku untuk daerah tertentu.  Namun kondisi geografis akan lebih mudah diatasi jika kesadaran pendidikan muncul dari masyarakat. Misalnya melibatkan swadaya masyarakat ataupun dukungan penuh pemerintah/ swasta setempat.
Di tingkat golongan ekonomi menengah  atas mereka sudah mulai mencari pendidikan yang berkualitas. Berdasarkan fakta dilapangan para orang tua lebih banyak mencarikan sekolah yang anaknya merasa nyaman, meskipun sebagian ada juga anak yang sekolah pilihan orang tuanya.  Tawaran model pendidikan dari sekolah yang sudah bervariasi misalnya sekolah alam, home schooling, sekolah internasional, sekolah berstandar nasional, SDIT, dan pilihan lain yang bervariatif. Di sebuah sekolah di wilayah Jakarta rata- rata banyak yang memindahkan sekolah anaknya karena ada sekolah yang mampu menawarkan konsep pembelajaran yang menarik.
Sedangkan di golongan ekonomi kebawah mereka cenderung pasrah dengan model pendidikan yang diberikan pemerintah. Tidak memikirkan model kurikulum yang ditawarkan sekolah. Yang utama anak – anak mereka bisa mendapatkan pendidikan.
Banyak model sekolah beda visi dan beda misi. Fakta tahun 90-an banyak pengangguran dari lulusan sekolah menengah. Namun memasuki tahun 2000  angka pengangguran didominasi oleh lulusan sarjana. Apakah yang salah?
Tak layak bertanya siapakah yang bersalah. Sejatinya pilihan pendidikan sebagai model paling strategis untuk perbaikan bangsa. Jika dievaluasi lebih dalam saat di bangku sekolah apakah ilmu yang diserap 100%?. Tentu tidak. Seberapa aplikatifkah  ilmu yang didapat di bangku sekolah untuk dunia kerja?. Mungkin hanya beberapa saja.
Rata – rata fresh graduate bingung memasuki dunia kerja yang baru. Ini potret lapangan, faktanya banyak teori berhamburan di bangku pendidikan formal. Teori yang sudah dipelajari namun tanpa distimulus dengan pengembangan kreatifitas yang lebih riil maka sarjana fresh gradute merasa kaku untuk memasuki dunia kerja. Bagiamanapun dunia kerja membutuhkan skill dan soft skill  dalam bekerja.
Sebutlah Finlandia dengan negara yang mempunyai model pendidikan paling baik di dunia. Di negara ini pendidikan menjadi pusat dari pengembangan industry, ekonomi, kebudayaan dan kebijakan pemerintah. Maka akan sangat wajar jika negara ini mengambil pendidik  dari lulusan 5 perguruan tinggi terbaik di negara tersebut.
Jika ada pemetaan lebih terencana, bisa diminimalisir masalah pengangguran di negara ini. Apalagi jika semua  sumber daya manusia tersalurkan sesuai porsinya. Itu artinya masyarakat membutuhkan kurikulum yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat

Minggu, 17 April 2011

WASPADA MSG TERSELUBUNG !!!

Seorang Ibu rumah tangga berbelanja di pusat perbelajaan di kawasan Bintaro besama putra dan putri mereka. saat melewati beberapa rak tibalah mereka di rak yang berisi jajanan /snack. Bermacam variasi yang disedikan, tinggal memilih mana yang cocok tidak repot tinggal ambil kemudian bayar dikasir. Anak - anak begitu semangat mengambil bermacam jenis makanan yang mereka sukai, kecuali "jenis CIKI- CIKIAN" tidak diperbolehkan.
15 menit berjalan sudah penuh keranjang belajaan dengan makanan. Sang Ibu merasa tenang karena tidak ada yang ambil makanan ciki.

OPS ! ADA MSG?

Cuplikan cerita singkat diatas adalah gaya hidup masa kini, mungkin hanya beberapa kalangan tertentu saja yang paham mengenai masalah makanan mana yang mengandung MSG.
berikut paparan majalah famale reader edisi Agustus - September 2006 hal 45 tentang daftar MSG terselubung.

1. Penyedap yang PASTI berisi MSG

  •  Monosodium Glutamate (MSG)
  • Protein  sayuran Hydrolyzed
  • Protein Hyrolized   
  • Protein  tanaman  Hydrolyzed
  • Sari protein tanaman 
  • Sodium caseinate
  • Calcium caseinate 
  • Sari ragi 
  • Protein jaringan (termasuk TVP)
  • Ragi autolyzed 
  • Tepung gandum Hydrolyzed
  • Minyak Jagung 

2. Penyedap yang seringkali mengandung MSG

  • Sari gandum 
  • Malt  Flavoring 
  • Bouillon 
  • Broth 
  • Stock 
  • Flavoring
  • Natural flavors/ Flavoring 
  • Natural beef or chicken flavoring 
  • Seasoning 
  • Pieces   

3 Penyedap yang MUNGKIN berisi MSG

  • Carrageenam
  • Enzymes
  • Soy Protein concentrate 
  • Soy Protein Isolate 
  • Whey Protein concentrate 



TIPS
  1. Bacalah kompsisi sebelum membeli hati hati jika kandungannya/ kadarnya tinggi sebaiknya ganti dengan makanan yang lain 
  2. Makanan / snack yang kaya manfaat adalah buah segar 
  3. Kenali bahan yang mengandung MSG 
  4. Teliti sebelum membeli  
  5. Biasakan makan - makanan organik  bukan makanan fast food




Rokok, Mencerdaskan Anak Negeri



Saatnya tlah tiba
Come join us
Beswan djarum
Semangatmu, ceriamu , prestasimu
Jadilah generasi yang membanggakan
Bersama beswan djarum
Come join us
Beswan djarum
Jingle “Come Join Us” Terdengar begitu menggugah semangat jiwa muda dimanapun dia berada, dari ujung Pulau Sumatera sampai batas Papua. Bagaimana tidak, pada salah satu liriknya berbunyi  “Come join us generasi yang membanggakan bersama beswan djarum”  Ini berisi ajakan untuk berprestasi.Benar. Tidak tanggung – tanggung pihak perusahaan pun bekerja sama dengan media dan instansi pendidikan untuk menyebarluaskan informasi ini. Siapapun yang melihat dan mendengar, dari anak – anak sampai dewasa akan tertarik dengan istilah berprestasi. Efeknya untuk masyarakat  secara tidak langsung positif, apalagi bagi yang membutuhkan dukungan finansial yang tinggi untuk pendidikan. Bagaimana  berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya walaupun harus belajar ekstra luar biasa.
Nah, ini ironis dengan dunia medis yang mengatakan bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan. Bisa dilihat juga dalam setiap kemasan rokok selalu bertuliskan “Merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin”. Kutipan tersebut berhasil menjadikan beberapa kawasan umum menerapkan kebijakan zona rokok. Tandanya cukup mudah bila ada tulisan “Dilarang merokok” Atau “Kawasan bebas rokok “ Itu artinya tidak boleh merokok. Kadangkala  Kutipan  tinggal kutipan, bagi sebagian orang  tidak begitu peduli dengan kutipan tersebut dengan berbagai alasan.
Masyarakat Indonesia masih ada yang pro merokokpun mempunyai sejumlah alasan untuk mendukung keberadaan rokok. Misalnya fakta yang ada dimasyarakat antara lain dari segi seni dan budaya rokok memberikan dukungan financial yang cukup besar untuk menyelenggarakan event tersebut, dari segi olah raga rokok termasuk penyumbang sponsor paling dominan, dari segi pendidikan rokok menjadi donator beasiswa yang tersebar di seluruh sekolah dan perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia, dari segi lingkungan rokok menggandeng LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk mewujudkan life go green dan dari segi ekonomi menambah pengahasilan pedagang asongan dan petani,  bahkan menjadi sumber pemasukan Negara.
Berprestasi karena  didukung rokok
Fakta dari dinas kesehatan merokok mempunyai banyak efek negatif bagi tubuh manusia, jika diartikan sekilas mungkin sebagian orang akan menolak dengan sub tema diatas. Namun bagaimana persepsi sebagian yang lain ketika rokok berkolaborasi  dengan  pendidikan?. Sudah banyak sumber media cetak maupun elektronik memberitakan banyak pelajar SD - SMA sudah merokok. Tertulis di media yang menyatakan bahwa rokok sudah di konsumsi anak usia sekolah dasar1. Ironisnya disisi lain ini menjadi sumber keberkahan bagi pelajar berprestasi yang justru ada yang tidak merokok . Di website komunitas penerima beasiswa2 dari salah satu perusahaan rokok 60 alumni mengatakan menjadi lebih berprestasi dan bangga dengan mendapatkan beasiswa dari perusahaan rokok, bahkan semua sepakat memberi apresiasi yang tinggi. Data penerima besiswa dari 1 perusahaan  rokok  yang lain (red. Djarum) anggotanya  sudah mencapai lebih dari 6300 orang dari 25 angkatan yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia3. Berdasarkan keterangan di www.tempointeraktif.com yayasan Sampoerna telah membiayai pendidikan 9.110 orang dari berbagai tingkat pendidikan sejak  tahun 2001. Setiap tahun Yayasan Sampoerna memberikan beasiswa rata-rata 3.000 siswa diberbagai wilayah di Indonesia.  Meskipun yayasan mereka merupakan  lembaga independen yang terlepas dari perusahaan rokok, PT HM Sampoerna.
Pendidikan merupakan jalan terbaik untuk memperbaiki kulitas sumber daya manusia. Di negeri yang merdeka 17 Agustus 1945 lalu, pemerintah sudah berusaha memprogramkan program pendidikan yang berkualitas untuk anak bangsa. Meski tak bisa dipungkiri pemerintah belum sepenuhnya berhasil, maka pemerintah memberikan kesempatan bagi pihak swasta untuk membantu mencerdaskan generasi bangsa ini.  Dasar utamanya dari UUD 1945 pasal 314 ayat 1 “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.pasal 31 ayat 2 :” Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.
Dari kacamata Undang undang pendidikan Dasar tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Kemudian tingkat lanjutan  swasta boleh berperan. Realita yang ditemui dimasyarakat, swasta sudah diperbolehkan untuk terlibat lebih banyak dalam mencerdaskan anak bangsa dari level usia dini sampai Perguruan Tinggi (PT). Perusahaan rokok termasuk pendonor dana terbesar untuk pendidikan mulai pendidikan SMA sampai S3 5, baik di  dalam negeri  maupuan di luar negeri mereka menawarkan beasiswa di sekolah bergengsi  dan berkualitas. Tak ayal bisa saringan masuknya sangat ketat 6.  Berawal dari pencarian bibit unggul inilah lahirlah generasi yang berprestasi. Melalui proses magang para penerima beasiswa ini dididik dan diberikan soft skill yang lebih praktis sehingga bisa langsung diterapkan di masyarakat.
Seorang mahasiswi dari Universitas di Bandung usia 22 tahun 7, menerima beasiswa dari perusahaan rokok pada tahun  2009-2010. Dia mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang diadakan oleh kampus. Proses yang dia lalui cukup menantang  mulai dari seleksi  merancang business proposal dalam waktu yang relatif singkat, presentasi business plan dihadapan para penguji, sesi wawancara, dan mengikuti berbagai workshop dan magang di UKM.
 Rokok memang berbahaya bagi kesehatan 8. Sebuah riset yang dilakukan ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory, California, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa residu asap tembakau yang melekat pada pakaian, rambut, kulit, dinding, serta permukaan barang lainnya dapat bereaksi dengan zat kimia yang biasa terdapat udara ruangan. Reaksi itu menghasilkan karsinogen atau zat pemicu kanker.  Jelas berbahaya. Namun berbeda untuk bidang pendidikan. Semua yang sedang merokok tentu mengganggu orang yang tidak suka rokok. Dan tidak semua yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan rokok  adalah perokok. Dan tidak semua perokok itu mendapatkan beasiswa dari perusahaan rokok. Cukup solutif jika layanan publik memberikan ruang rokok bagi perokok tetapi tetap memberlakukan kebijakan “Area Bebas Asap Rokok”!.  Akan ada statemen yang berbeda seandainya  penerima beasiswa dari perusahaan rokok, padahal tidak merokok. Apa yang anda katakan jika penerimanya anda?